Maret 17, 2011

Teori-teori Belajar dalam Pembelajaran (Persamaan dan Perbedaan)

Psikologi belajar atau pendekatan belajar modern sebenarnya dimulai dari pemikiran Thorndike yang diawali dengan falsafah ”hedonisme” dan ”asosianisme” (Sujana, 1991:14). Pandangan hedonisme menyatakan bahwa tingkah laku manusia dan hewan diarahkan kepada tujuan untuk meningkatkan kepuasan dan menghindari penderitaan. Sementara pandangan asosianisme menyatakan bahwa pikiran dan ingatan manusia adalah asosiasi unsur-unsur mental. Dalam perkembangannya, psikologi belajar yang diawali dari penelitian-penelitian dengan subjek binatang mulai dikembangakan ke penelitian di dalam kelas yaitu dengan subjek peserta didik sehingga muncul beberapa teori atau pendekatan belajar. Beberapa pendekatan diantaranya:
• Behaviorisme. Aliran behaviorisme dimulai oleh John B. Watson yang berpendapat bahwa studi psikologi hendaknya mempelajari respon organisme terhadap stimuli. sehingga munculah formula ”S-R” (Stimulus Respon). Pengaruh Watson dalam bidang pendidikan cukup penting. Ia percaya bahwa dengan memberikan kondisioning tertentu dalam proses pendidikan, dapat membuat anak didik mempunyai sifat-sifat tertentu.
• Cognitivism. Cognitivism merupakan pendekatan yang lebih banyak menekankan pada perkembangan kognitif. Pendekatan ini merupakan dasar dari pengembangan teori konstruktivisme yang menekankan bagaimana peserta didik mengkonstruksi sendiri pengetahuannya.
• Humanism, Psikologi humanistic lebih menekankan pada individual dan keunikannya daripada aturan penemuan secara umum yang menjelaskan respon individu. Kaum humanism lebih focus pada perkembangan emosional daripada pemrosesan informasi atau stimulus respon.
Ketiga pendekatan tersebut memiliki karakteristik tersendiri yang saling membedakan satu sama yang lainnya. Begitu juga dengan para ahli dan pengembangan teorinya masing-masing.

Kaum Behaviorisme:
1. Pavlov (Classical Conditioning)
Ivan Pavlov seorang ahli psikologi asal Rusia merupakan salah satu ahli yang namanya selalu dikaitkan dengan pengkondisian kelas (Conditioning Classical). Pada suatu saat, dia meneliti pencernaan pada anjing. Apa yang dinyatakan oleh Pavlov dalam pelatihannya bahwa anjing yang ada di laboratoriumnya mulai mengeluarkan air ludah ketika melihat makanan, bahkan sebelum melihatnya. Lebih jauh lagi, mereka terlihat mengeluarkan air ludah ketika melihat para penjaganya dan bahkan ketika baru mendengar hentakan sepatu. Hal ini memberikan inspirasi kepada Pavlov untuk membuat serangkaian penelitian untuk mengetahui dengan lebih baik. Dia harus membunyikan bel atau sumber bunyi-atau sumber bunyi lain yang dapat memancing anjing dan kemudian dengan cepat menunjukkan makanan kepada anjing, sehingga stimulus yang diberikan menyebabkan anjing mengeluarkan air ludah. Pavlov memperhatikan bahwa jika prosedur tersebut diulangi cukup sering, bel dengan sendirinya akan menimbulkan respon anjing berupa mengeluarkan air ludahnya. Dalam penelitian Pavlov, bel dianggap sebagai Conditioned stimulus (CS); makanan sebagai Unconditioned Stimulus (US); Keluarnya ludah anjing sebagai respon terhadap makanan dianggap sebagai unconditioned Response (UR), dimana salivation sebagi respon terhadap makanan sebagai conditioned response (CR).
Dalam bentuk umum, stimulus atau situasi yang disediakan sebagai respon dapat dipasangkan dengan stimulus netral untuk membawanya ke dalam situasi yang telah dikondisikan. Belajar dengan cara ini sebenarnya merupakan tipe belajar yang tanpa disadari, yang mana pebelajar tidak memberikan respon terhadap stimulus yang telah dikondisikan karena mereka menjadi sadar bahwa terdapat hubungan antara dia dan stimulus yang tidak dikondisikan. Pada kenyataannya, kondisi kelas dapat diukur bahkan untuk respon yang berlebihan yang mana subjek biasanya tidak terkontrol.

2. Watson (Environmentalisme)
Menurut J.B Watson (1913-1916) yang mana kinerjanya banyak dipengaruhi oleh pemikiran Pavlov, menyatakan bahwa orang lahir dengan banyak refleks yang terbatas. Menurut penjelasan Watson, Belajar hanyalah sebuah persoalan yang dipengaruhi oleh pengkondisian kelas. Oleh sebab itu, perbedaan diantara individu seluruhnya merupakan fungsi dari pengalamannya.
Implikasi Teori Pendekatan Behaviorisme Pavlov’s dan Watson’s dalam Bidang Pendidikan.
Teori behavioristrik dengan karakteristiknya yaitu berpusat pada guru, pendekatan instruksi langsung dalam pengajaran, bertentangan dengan pendekatan teori konstrukstivisme. Dimana, pendekatan ini menekankan peran guru dalam mengatur situasi belajar dan memberikan/menyampaikan informasi melebihi peran siswa dalam menemukan dan memahami materi. Secara ringkasnya, beberapa implikasi dari teori pengkondisian kelas meliputi beberapa hal berikut ini:
 Guru harus mengetahui apa yang dapat mereka maksimalkan, apa yang perlu ditekankan, dan potensi menyenangkan yang dapat dikondisikan di dalam kelas.
 Guru harus mencoba untuk meminimalisasi aspek-aspek yang tidak menyenangkan bagi siswa, oleh karena itu harus dihilangkan beberapa potensi negatif yang tidak dapat dikondisikan di dalam kelas.
 Guru harus mengetahui apa yang harus dipasangkan dengan apa di dalam kelas. Dengan kata lain apa yang saling berhubungan di dalam kelas.

3. Thorndike (Connectionisme)
Esensi dari penjelasan Thordike’s tentang bagaimana manusia belajar dapat diringkas sebagai berikut: Ketika diberikan suatu situasi, orang-orang memberikan berbagai macam respon sampai respon tersebut memberikan suatu solusi (oleh Thordike’s, situasi ini disebut sebagai “a satisfying state of affairs”). Kemudian respon tersebut dipelajari kembali, dimana Thordike’s menggunakan istilah “stamped in”. Akhirnya, proses belajar dipengaruhi oleh “stanped in” ini yaitu hubungan antara antara stimulus dan Respon. Oleh karena itu, teori ini disebut sebagai teori koneksionisme (connectionism).
Terkait dengan teori stimulus respon, terdapat dua penjelasan yang saling bersaing yaitu: contiguity dan Reinforcement. Contiguity yang dikembangkan oleh Pavlov’s dan Watson berisikan tentang kejadian yang simultan merupakan sesuatu peristiwa yang berhubungan dengan belajar. Pendapat yang kedua yaitu penjelasan tentang Reinforcement. Penjelasan ini dikembangkan oleh Thordike’s dan dipopulerkan oleh B.F. Skiner yang disebut sebagai pendekatan Reinforcement. Pendekatan ini menekankan pada konsekuensi dari sebuah respon dalam proses belajar.
Aturan-aturan Belajar Thordike’s
Berikut ini merupakan beberapa aturan dalam belajar yang dikembangkan oleh Thordike’s yang merupakan dasar dari teori bagaimana manusia belajar, diataranya:
 The Law of Effect
Respon yang diukur hanyalah respon yang pertama dan apabila itu memuaskan maka akan dilakukan berulang-ulang.
 The Law of Readiness
 The Law of Exercise, Repealed

Aplikasi Teori Belajar Thordike’s dalam Pembelajaran
Kebanyakan penelitian dan tulisan Thordike’s berkaitan langsung dengan aplikasi dan penemuan di bidang pendidikan. Oleh karena itu, teorinya kaya dengan iplikasi dalam pembelajaran. Dari karakteristik dan penelitian-penelitiannya, teori belajar Thordike’s lebih banyak berkaitan dengan pendekatan belajar Behavioristik, dimana implikasi pembelajarannya lebih relevant dengan model pengajaran langsung (direct instruction) daripada pendekatan konstruktivist seperti belajar penemuan dan pendekatan kooperatif. Beberapa implikasi teori belajar Thordike’s menitikberatkan pada aspek-aspek berikut:
 Menghagai percobaan-percobaan yang benar (rewarding correct trials)]
 Membangun sikap (establishing attitude)
 Kesiapan (Reediness)
 Menarik Perhatian (attracting Attention)
 Menyamaratakan generalisasi (Generalizing Generalization)

4. Skinner’s (Operant Conditioning)
B.F. Skiner’s merupakan salah satu ahli psikologi terkenal pada abad ke-20 yang merupakan pengembang dan pembicara dari teori Operant Conditioning. Teori ini merupakan cakupan dari pendekatan Reiforcement (penguatan) yang sebelumnya dikembangakan oleh Thorndike’s. B.F. Skiner’s membuat defiisi tersendiri tentang reinforcement. B.F. Skiner’s membuta perbedaan mendasar antara apa yang dimaksud dengan reinforcer dan reinforcement. Reinforcer adalah situasi yang ditetapkan oleh Skinner, yaitu stilmulus. Sementara, reinforcement adal pengaruh dari stimulus yang diberikan. Arti lebih luas dari reinforcer dalah beberapa stimulus yang meningkatkan kemungkinan terjadinya respon yang dapat diukur. Konsep dari teori operant Conditioning secara umum meliputi beberapa konsep, diantaranya:
 Penguatan positif
 Penguatan negatif
 Hukuman Positif
 Pembentukan
 Generalisasi
 Diskriminasi
 Pemadaman

5. Gagne (Conditioning of Learning)
AnalisisGagne’s tentang bagaimana manusia belajar mengidentifikasi lima ktegori atau lima macam belajar. Kelima kategori belajar tersebut diantaranya: Informasi verbal, keterampilan intelektual, keterampilan motorik, sikap, dan strategi kognitif. Ciri-ciri dari kelima kategori tersebut secara detail disajikan dalam tabel berikut ini:
Perlu diperhatikan bahwa dari kelima kategori tersebut, perbedaan utama antara invormasi verbal dan keterampilan intelektua adalah perbedaan tentang apa yang akan diketahui yaitu antara ”mengetahui apa” dan ”mengetahuii bagaimana”. Setiap kategori dari kelima kategori belajar diatas diperoleh dengan cara yang berbeda-beda. Yang mana, setiap kategori mengharuskan sekumpulan keterampilan prasyarat yang berbeda dfan sekumpulan proses kognitif yang berbeda juga. Keharusan ini oleh Gagne disebut sebagai kondisi internal dalm belajar (internal conditions of learning).
Gagne juga menggambarkan beberapa tipe stimulus lingkungan yang dibutuhkan untuk mendukung proses kognitif pebelajar selama belajar. Stimulus-stimulus tersebut lebih dikenal sebagai kondisi eksternal dari belajar (external conditions of learning). Disamping itu, Gagne juga menunjuk beberapa peristiwa dalam pengajaran dan perannya dalam mendukung pembelajaran sepertti yang ditunjukkan dalam bagan berikut:

Aplikasi Teori Belajar Gagne dalam Pembelajaran Matematika
Menurut Gagne obyek matematika terdiri dari dua, yaitu :
 Obyek langsung yang meliputi fakta, operasi, konsep dan prinsip
 Obyek tak langsung yang meliputi kemampuan menyelidiki, memecahkan masalah, disiplin diri, bersikap positif dan tahu bagaimana semestinya belajar.
Gagne membedakan delapan tipe belajar yang menurut kesukarannya dari yang sederhana sampai kompleks sebagai berikur :
1) Belajar isyarat (signal learning); belajar sesuatu tanpa disengaja, tapi hanya sebagai akibat dari adanya rangsangan disekitarnya. Misalnya sikap senang dalam belajar matematika karena guru yang mengajar sangat menyenangkan.
2) Belajar stimulus respon (stimulus respon learning); belajar sebagai suatu proses yang sengaja diciptakan tetapi masih bersifat jasmaniah. Misalnya melukis beberapa bentuk segitiga setelah guru menjelaskannya.
3) Rangkaian gerak (motor chaining); belajar sebagai kegiatan jasmaniah terurut dari dua atau lebih rangsangan. Misalnya ketika siswa ingin melukis suatu garis
4) Rangkaian verbal (verbal chaining); belajar sebagai kegiatan mental terurut berdasarkan dua atau lebih rangsangan. Misalnya ketika siswa belajar tentang perkalian bilangan rasional.
5) Belajar membedakan (different learning); belajar memisahkan rangkaian-rangkaian yang bervariasi. Misalnya siswa dalam membedakan lambang yang digunakan dalam matematika.
6) Belajar konsep (konsep learning); belajar pengelompkan dimana sisiwa belajar mengenal sifat-sifat yang sama dari suatu benda atau peristiwa. Misalnya dalam memahami konsep lingkaran.
7) Belajar aturan (rule learning); belajar tentang aturan-aturan atau hukum yang berlaku dalam matematika. Misalnya hukum yang berlaku pada operasi bilangan bulat.
Pemecahan masalah (problem solving); belajar melalui masalah baru yang baru dikenalnya saat itu dan belum mempunyai prosedur penyelesaiannya, tetapi telah memiliki prasyarat. Misalnya pemecahan masalah dalam soal olimpiade matematika.

Kaum Cognitivisme
1. Teori Bruner : Belajar Penemuan (Discovery Learning)
Psikologi kognitif mengasumsikan bahwa belajar adalah suatu kegiatan aktif pemrosesan informasi. Beberapa pertanyaan terkait tentang ini diantaranya: bagaimana pebelajar memperoleh informasi dari lingkungannya, bagaimana informasi itu diolah dan ditafsirkan, dan bagaimana itu digunakan. Teori Jerome Bruner’s memberikan sekumpulan jawaban terkait tentang pertanyaan-pertanyaan tersebut dan beberapa pertanyaan lainnya. Belajar dan persepsi, dijelaskan oleh Bruner sebagai ”… perception are information processing activities that reflect our need to simplify and make sense of the environment”. Ini berarti bahwa belajar dan persepsi merupakan aktivitas pemrosesan informasi yang menggambarkan keperluaan menjadi sederhana dan membuat pengertian mendasar tentang lingkungan. Lebih utama lagi, dipermudah dalam membuat pengertian tentang alam dengan membangun konsep. Bisa juga dengan membuat elemen-elemen umum yang abstrak diantara beberapa kejadian atau penelitian. Dari abstraksi tersebut, diperoleh aturan secara implisit yang dapat digunakan untuk mengkatorgorikan alam. Pada saat yang sama, kita menemukan dan menciptakan banyak hubungan diantara konsep-konsep. Hubungan diantara konsep-konsep tersebut sebagaimana didefinisikan oleh bruner disebut sebagai ”Coding System” atau sistem persandian. Coding System adalah sebuah kiasan sederhana untk apa yang diasumsikan sebagai sebuah susunan yang hirarki dari konsep-konsep yang ditingkatkan (atau diturunkan) sebagai keadaan umum. Oleh karena itu, memori jangka panjang kita (simpanan pengetahuan secara permanen, pengaruh perencanaan, dan lainnya yang dapat) dapat dipandang sebagai perencanaan yang kompleks dari kategori-kategori (konsep) atau sistem persandian. Dan seluruh subjek sekolah, dapat dipandang memiliki kemiripan bentuk struksur. Struktur dari sebuah subjek, menurut Bruner, mencerminkan hubungan mendasar dan ide dalam suatu bidang. Dengan demikian, untuk sungguh-sungguh belajar tentang suatu subjek dan dapat berpikir tentang itu, pebelajar memerlukan pengembangan sistem persandiannya sendiri (termasuk rep[rsentasi mental dan ide-ide penting dalam persahabatan). Dan cara terbaik untuk mengembangkan sistem persandian adalah dengan menemukannya lebih dari apa yang ditunjukkan sebagai bentuk akhir dari seorang guru.
Belajar Penemuan di Sekolah.
Seperti yang ditunjukkan dalam teori perkembangan kognitif, Piaget menggambarkan salah satu cara untuk menggambarkan perkembangan kognitif. Sebagai fungsi dari interaksi dengan lingkungan (melalui asimilasi dan akomodasi), Piaget mengatakan, anak-anak secara berangsur-angsur membangun gudang dari pengetahuannya. Dalam pemikiran yang sangat relita, ini dinyatakan dengan pebelajar membangun (construct) pengetahuannya, berlawanan dengan situasi dimana pebelajar diberikan pengetahuan oleh sesorang (misalnya, orang tua atau guru).
Teori Bruner didasari oleh pemikiran yang sama, sebuah keyakinan bahwa itu merupakan dasar pendekatan konstruktivis dalam mengajar. Dan fungsi sekolah, mendesak dengan tegas, harus memberikan kondisi yang akan membantu perkembangan hubungan dalam penemuan. Discovery Learning atau belajar penemuan dapat didefinisikan ”As the learning that take places when students are not presented with subject matter in its final form but rather are requires learner to organize it themselves”. Yang kurang lebih berarti suatu pendekatan belajar dimana siswa tidak diberikan bentuk akhir dari sebuah subjek melainkan mereka diwajibkan untuk membangun/mengaturnya. Dalam teori Bruner, penemuan adalah sebuah formasi kategori-kategori, lebih sering disebut formasi dari sistem persandian (kemiripan atau perbedaan) yang ada pada beberap objek atau peristiwa.
Yang paling penting dan karakteristik paling nyata dari pendekatan penemuan untuk mengajar bahwa diwajibkan jauh lebih sedikit pengaruh guru dan petunjuk daripada metode lainnya. Menurut Bruner, pendekatan penemuan memiliki kelebihan misalnya dalam fasilitas transfer belajar dan ingatan, meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, dan meningkatkan motivasi (Bruner dalam Lefrancois,1999:209).
Kondisi-kondisi yang Memudahkan Belajar Penemuan
Bruner menyatakan terdapat empat kumpulan kondisi yang dapat memberikan kontribusi terhadap belajar penemuan, diataranya: perlengkapan (set), keadaan (need state), penguasaan khusus (mastery of specific), dan perbedaan pelatihan (diversity of training).

Metode Berorientasi Penemuan untuk Kelas Konstruktivis.
Sebagaimana kita lihat, pendekatan konsruktivis merupakan pendekatan yang berasumsi bahwa siswa harus membangun (mengkonstruksi) pengetahuannya sendiri. Oleh karena itu, pendekatan konstrukstivis pada dasarnya berorientasi penemuan.
Terkait dengan hal itu, Bruner mengajukkan beberapa rekomendasi dan pengamatan yang penting untuk konstruktivis, pembelajaran berbasis penemuan. Beberapa diantaranya adalah:
 ”...the curricullum of a subject should be determined by the most fundamental understanding that can be achieved of the underlying principles that give structure to the subject” Brunner Advises (Lefrancois, 1999:212).
 “…any subject can be taught to any child in some honest”.
 Bruner menyarankan bahwa pendekatan yang sangat bermanfaat dalam mengorganisasikan topic di sekolah adalah “Spiral Curriculum”. Kurikulum spiral merupakan salah satu pengembangan dan pengembangan kembali topik pada tingkat/jenjang yang berbeda.
 ”...a student should be given some training in recognizing the plausibility of guesses”.
 Bruner merekomendasikan untuk kelas yang berorientasi penemuan perlu juga dipertimbangkan bahwa guru menggunakan sebanyak mungkin tujuan dalam mengajar (audiovisual, konkrit atau model simbolik, dan sumber informasi dan inspirasi berupa multimedia).

2. Teori Ausubel: Reception Learning
Tidak semua pendidik setuju bahwa penemuan adalah pendekatan terbaik. Salah satu ahli yang memiliki pendapat lain yaitu David Ausubel (1963, 1977). Dalam teorinya, Ausubel menyatakan bahwa kebanyak orang belajar dimulai dengan Belajar menerima (reception learning), dan bukannya penemuan. Lebih lanjut dikatakan, kebanyakan darib apa yang siswa pelajari secara relatif diterima dalam bentuk final, bukan ditemukan sendiri.
Teori Kognitif Ausubel
Teori kognitif Ausubel dalam belajar lebih khusus berkaitan dengan apa yang disebutnya sebagai ”meaningful verbal learning”. Sebagiian besar perhatian Ausubel dalam psikologi pendidikan berfokus pada ”laws of meaningful classroom learning” yaitu hokum/aturan belajar bermakna di kelas.
Belajar Bermakna (Meaningful Learning). Belajar bermakna menurut Ausubel mengharuskan pebelajar memiliki kesiapan untuk belajar berkaitan dengan konsep mana yang dapat dikaitkan dengan materi belajar atau dengan kata lain, Ausubel menyatakan bahwa konsep dapat ”memasukan” pengetahuan baru. Dalam model belajar Ausubel (sebagian besar seperti teori Belajar Bruner’s), pengkonstruksian dari pengetahuan yang baru secara mutlak bergantung pada belajar bermakna yang telah dilakukan sebelumnya. Seperti yang disampaikan Novak (1993) menyatakan, belajar bermakna tingkat tinggi sangat diperlukan untuk perkembangan kognitif dan konstruksi pengetahuan baru. Disisi lain, struktur kognitif yang dinyatakan oleh Ausubel juga sebagian besar mirip dengan apa yang dinyatakan oleh Bruner. Ausubel menyatakn bahwa pengajaran harus diproses dari ide yang sangat umum sampai dengan menghargai hal yang sangat spesifik.
Membuat Belajar Bermakna. Ausubel menekankan pada belajar penerimaan yang bersebrangan dengan belajar penemuan yang didasari pada keyakinan bahwa sebagian besar yang diperlukan dalam belajar adalah bermakna, sebagai lawan dari belajar melalui menghapal (Rote Learning). Ausubel mengatakan, belajar adalah bermakna ketika terdapat hubungan yang sangat jelas antara materi yang baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki.
3. Jean Piaget: Teori Perkembangan Kognitif
Fokus dari teori Piaget’s adalah perkembangan hakekat sejak lahir hingga dewasa. Memahami teori ini bergantung pada pemahaman terhadap asumsi biologis dariamana itu diperoleh dan pemahaman terhadap asumsi tersebut untuk pendefisisian pengetahuan.
Dalam perkembangan kognitif, Piaget menyatakan terdapat empat faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan dari fungsi kognitif, diantaranya: Lingkungan fisik (the physical environment), kedewasaann (maturation), pengaruh sosial (social influences), dan kontrol diri (self-regulation) yang sering disebut penyeimbangan (Equilibration). Kontak dengan lingkungan fisik sangat diperlukan karena interaksi antara individual dan alam merupakan sumber dari pengetahuan yang baru. Disisi lain, kematangan atau kedewasaan merupakan kegelisahan juga penting karena ini mengizinkan anak untuk mendapatkan keuntungan maksimum dari penelitian fisik. Dengan kata lain, kedewasaan memeberikan kesempatan untuk pengembangan, dimana hambatan untuk menentukannya dibatasi oleh pencapaian kognitif. Faktor ketiga yaitu lingkungan sosial, termasuk peran bahasa dan pendidikan. Pentingnya lingkungan sosial seperti pengalaman, misalnya pengalaman fisik, dapat mempercepat pengembangan struktur kognitif. Ketiga faktor yang telah disebutkan tersebut merupakan faktor klasik yang telah ditentukan oleh teori-teori lain yang berpengaruh terhadap perkembangan. Sebagai tambahan, Piaget menentukan faktor keempat, yaitu Eqilibration. Faktor ini merupakan kontrol diri atau proses evaluasi diri oleh pebelajar yang sangat berfungsi dalam perkembangan.
Hakekat intelegensi
Teori Belajar secara tradisional memiliki pengertian ”belajar” dan ”intelegensi” secara terpisah, tetapi berelasi dan merupakan satu kesatuan. Intelegensi terlihat sebagai subjek kronis yang dapat diukur secara kuantitatif. Sementara belajar dipertimbangkan sebagai subjek khusus yang diukur dalam parameter yang luas dengan menggunakan intelegensi.
Intelegensi sebagai Proses. Menurut Piaget, intelegensi bukan merupakan ciri statis yang dapat dinilai secara kuantitatif. Sebagai tambahan, intelegensi adalah proses yang berjalan dan selalu berubah. Ini merupakan suatu mekanisme yang mana individu selalu berinteraksi dengan lingkungannya dalam berbagai kesempatan dan merupakan sebuah proses yang dikonstruksi secara kontinu. Intelegensi, seperti sebuah sistem biologis, mengambil dasar-dasar tertentu dari lingkungan dan kemudian membangun struktur yang diperlukan pada fungsi yang lain. Oleh karena itu, intelegensi selalu aktif dan dinamis.
Pengetahuan sebagai Proses. Piaget secara khas melihat bahwa pengetahuan adalah merupakan kreasi dari pengetahuan, yaitu individu dan objek sebagai suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Pengetahuan selalu berisi komponen-komponen subjektif, oleh karena itu, ini selalu berhubungan dan bukan merupakan suatu hal yang telah diberikan diawal.

Komponen-komponen Perkembangan Kognitif
Inti dari teori ini merupakan suatu pemahaman yang mana hasil dari perkembangan seseorang/individual dari satu tingkat pengetahuan menuju tingkat tinggi. Pusat dari teori ini meyakini bahwa pengetahuan dikonstruksi oleh individu dalam proses yang berkelanjutan dan bahkan berubah-ubah akibat interaksi dengan lingkungannya. Untuk memahami mekanisme dari perkembangan kognitif, Piaget menggambarkan fungsi intelektual dari tiga perspektif, yaitu: Proses dasar yang mempengaruhi interaksinya dengan lingkungan (asimilasi, akomodasi , dan equilibrasi), Cara mengkonstruksi pengetahuan (fisik dan pengalaman logika-matematika), dan perbedaan kualitatif dalam berpikir yaitu perbedaan tingkat perkembangan (bayi, pra-operasional. Konkrit dan formal).
 Proses Dasar
Perkembangan kognitif menurut piaget dipengaruhi oleh tiga proses dasar, yaitu asimilasi, akomodasi, dan equilibrasi. Asimilasi adalah interaksi diantara beberapa data yang terdapat dalam struktur kognitif, akomodasi adalah penyesuaian struktur kognitif dengan situasi yang baru, dan equilibrasi adalah penyesuaian lebih lanjut antara asimilasi dan akomodasi.
 Konstruksi Pengetahuan
Proses mendasar dalam konstruksi pengetahuan adalah asimilasi dan akomodasi yang dikontrol dengan equilibrasi. Sebagai tambahan, Piaget menggambarkan pengkonstruksian pengetahuan sebagai bentuk dari tipe pengetahuan dan pengalaman yang digunakan oleh pebelajar. Yang meliputi dua hal, yaitu: Pengalaman fisik dan pengalaman logika matematika.
• Pengalaman Fisik. Sumber pengalaman baru bagai pebelajara dalam pengalaman fisik adalah beberapa objek yang berada di luar pebelajar. Dalam proses, salah satunya adalah abstraksi dari karakteristik objek fisik oleh pebelajar.
• Pengalaman Logika-Matematika. Sifat-sifat fisik dari objek adalah suatu proses abstraksi dan integrasi kedalam mental anak melalui pengalaman fisik. Penggolongan yang dilakukan melalui sentuhan langsung dengan lingkungan yang merupakan sumber dari pengetahuan dimana beberapa objek langsung dari pebelajar dapat diperoleh. Disisi lain, sumber pengetahuan dalam pengalaman logika-matematika adalah pebelajar sendiri, yaitu melalui prosesnya.
 Tingkatan-tingkatan dalam Perkembangan Kognitif
Penelitian terbaru yang dilaksanakan oleh Piaget (1967) yaitu untuk menyelesaikan kertas kerja yang menganalisis proses berpikir. Secara sfesifiknya, empat periode atau tingkatan dalam perkembangan kognitif diiidentifikasi dalam Penyelidikan terbarunya terkait tentang bagaimanan anak berpikir. Keempat tingkatan tersebut diantaranya: sensori motorik, praoperasional, operasional konkrit, dan operasional formal. Keempat tingkatan tersebut secara lebih detail disajikan dalam tabel berikut:
Diadaptasi dari : Bell-Gredler (1986:205)
Dari keempat tahap tersebu, perlu diperhatikan tahap ketiga yaitu operasional konkrit. Pada tahap ini terjadi perkembangan inklusi operasional, seriation, dan konstruksi dari konservasi bilangan (panjang, zat, berat dan volume). Anak-anak mengkonstruksi perkembangan struktur kognitifnya secara berangsur-angsur yang diawali dengak konflik kognitif, kebimbangan dalam menentukan pilihan, dan diakhiri dengan pemecahan dari konflik tersebut.


DAFTAR RUJUKAN

Bell-Gredler, Margaret E. 1986. Learning and Instruction. Macmillan Publishing Company, 866 Third Avenue, New York 10022.
Elliot, Stephen. 2000. Educational Psychology: Effective Teaching, Effective Learning. (3th Ed). The McGraw-Hill Companies:United States.
Knowles, Malcolm. 1986. The Adult Learner; a neglected species. Gulf Publishing Company.
Lefrancois, Guy R. 1999. Psychology for Teaching. (10th ed). Belmont-USA
Sudjana, Nana. 1991. Teori-teori Belajar untuk Pengajaran. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas indonesia.

4 komentar:

parmi mengatakan...

Alhamdulillah. . . terjawablah sudah tugas dari Bu Suci. . . terima kasih ya Pak . . .

Jero Budi D. mengatakan...

Jika tulisan ini bisa menjadi bahan bacaan, itu merupakan kebagaan saya. Terima kasih mau mengunjungi blog ini

Info Math For Education mengatakan...

BW
salam kenal

Frandiska Eltian mengatakan...

mau tanya bagaimana kaitannya antara teori belajar dan teori pembelajaran...