Maret 01, 2019
Februari 04, 2019
November 11, 2014
Magang Dosen Dikti 2014
Seperti biasanya, waktu luang saat duduk ruang kerja Pjs. Skretaris jurusan Pendidikan Matematika dimanfaatkan untuk akses informasi. Salah satu laman favorit adalah www.dikti.go.id yang selalu menyajikan informasi terbaru tentang program pendidikan Tinggi. Sore itu, lentik jemari dengan lincah menyentuh keyboard touchscreen adroid kebanggaanku untuk sesegera mungkin mendapatkan informasi program terbaru direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Benar saja, sebuah program spektakuler "Program Magang Dikti 2014" diunggah oleh sang Admin. Pucuk Dicinta Ulam Tiba, persiapan serah terima jabatan Pjs. Sekjur akan terasa berlipat-lipat lebih menyenangkan, dari sangat senang menjadi sangat senang pangkat n (dengan n bilangan positif dan lebih besar dari bilangan prima genap). "Malam Dek, bagaimana kabarnya?, o ya, bli dapat info baru tentang peluang mendapatkan akses sekolah serta beasiswa. Apa bli boleh ikut daftar?" Itu inti percakapan malam itu bersama istri tercinta, dan alasanya secantik wajahnya. Dengan semangat istriku mendukung 100%. Pintu masuk berikutnya adalah atasan langsung (Ibu Pjs. Ketua Jurusan). "Jika saya dalam posisimu, saya pasti ikut program itu. Siapkanlah berkasnya, semoga sukses" Balasan SMS yang saya kirim untuk ibu Suciati, M.Pd.Si. begitu juga dengan Bapak Dekan, ibu Pembantu Rektor I, dan Bapak Rektor yang dengan sepenuh hati mendukung program yang akan saya ikuti.
Minggu ini adalah minggu keenam kami para dosen Magang menimba ilmu di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). 15 dosen muda dari Aceh, Riau, Lampung, Cirebon, Kudus, Pontianak, dan Mataram bersama-sama menikmati hari-hari di salah satu LPTK terbesar di Indonesia ini. Perpaduan berbagai budaya, karakter, dan pengalaman memberikan warna dalam setiap diskusi. Dan hari liburpun sering kami lalui dengan liburan bersama. Terima kasih Tuhan, semoga Magang ini bermanfaat bagi hambamu ini beserta orang-orang disekitar dan institusi.
September 14, 2014
2MG3T (Part 1)
![]() |
![]() |
|
Gb 15.
Siswa memanipulasi alat
peraga
|
Gb 16.
Guru model dan observer
dalam kelas
|
![]() |
![]() |
|
Gb 17.
Salah satu siswa
mengukur kedalaman sungai dengan kayu
|
Gb 18.
Siswa didampingi oleh
guru mengkur kedalaman sungai dengan alat ukur baku
|
Februari 10, 2013
- Bagi saudara yang telah menginformasikan bahwa saudara sudah melaksankan KRS online sebagian besar sudah saya proses. Silahkan dicek kembali.
- Bagi mahasiswa yang belum, segera memberikan informasi secara langsung atau via SMS ke no AS saya (Jero) demi kelancaran studinya.
- Untuk pengambilan mata kuliah ke atas atau perbaikan mata kuliah, silahkan cermati jadwal kuliah. jadwal bisa diunduh di http://pmat.borneo.ac.id/ pada menu Akademik.
Februari 05, 2013
Terima Kasih
Januari 30, 2013
- Setiap Jurusan diwakili oleh satu tim yang beranggotakan 30 orang mahasiswa
- Menyerahkan nama peserta dengan format: No, NPM, Nama. dilampiri fotocopy KTM
- Setiap anggota menyiapkan papan ujian dan spidol
- Setiap Tim menyiapkan yel-yel
Kami tunggu partisipasi anda!!!
Januari 15, 2013
Yth. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika, Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Pendidikan Biologi, dan Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris yang memprogram Mata Kuliah:
1. Geometri Analitik Ruang
2. Masalah Nilai Awal dan Syarat Batas
3. Kalkulus Lanjut
4. Kalkulus I (Diampu oleh Endityas Pratiwi, M.Pd)
5. Kalkulus Dasar (Pendidikan Biologi)
6. Pendidikan Matematika SD II
7. Statistika Pendidikan
8. Research Statistic
yang diampu oleh saya (Jero Budi Darmayasa).
Jika saudara merasa belum optimal dalam mengerjakan soal UTS atau UAS, saudara bisa hadir pada acara "Studi Pendahuluan MASYARAKAT BELAJAR MATEMATIKA" yang akan dilaksanakan pada hari Rabu, 16 Januari 2013 bertempat di Hall C Gedung FKIP UBT. dengan susunan acara sebagai berikut:
Pukul 08.00 - 09.00 ---- Registrasi (Membeli Voucher penggandaan soal dan transportasi konsultant Rp.2000,-/voucher. Satu Voucher untuk satu soal)
Pukul 09.00 - 11.00 -----Acara Utama (mengambil soal, mengerjakan soal, evaluasi)
Pukul 11.00 - 11.15 -----Penutupan
Untuk Nilai Akhir belum bisa saya umumkan karena masih pada tahap koreksi dan rekapitulasi.
Mohon maaf atas keterlambatannya.
Terima Kasih
Maret 09, 2012
Students Go Abroad
Agustus 07, 2011
"Masyarakat Belajar"
Begitu juga dengan gagasan "masyarakat Belajar" yang akan dimulai di jurusan Pendidikan Matematika mulai saat ini sebagai suatu kesepakatan civitas akademika Jurusan Pendidikan Matematika. Masyarakat belajar yang akan dikemas merupakan suatu tretment yang tentunya memiliki tujuan yang sangat luas. Program ini dikemas sebagai "bola Salju" yang akan menggelinding di FKIP, Universitas, Instansi, Para penumpang Angkutan Umum, Penumpang Speedboat, Penunggu Antrean di Bank, Kantin, etc.
Masyarakat belajar yang dimaksud dalam skup kecil adalah selalu membaca referensi ataupun informasi baik media cetak, elektronek, iklan, publikasi yang secara umum penulis nyatakan sebagai "books" dimanapun dan kapanpun.
Ya, sebagai titipan untuk Panitia "SoulMate", jadikanlah agenda tahunan ini sebagai media berkreasi untuk menciptakan sebuah perubahan.
"Soulmate, Media Kreasi Wujudkan Masyarakat Belajar"
Be The Best Son, we are beside you
Agustus 02, 2011
Tarakan, the "New Singapore"
Berbicara aspek pendidikan, satu-satunya hal yang menjadi daya pikat penulis mengabdikan diri di Bumi Panguntaka karena perhatian pemerintah kota yang sangat tinggi di Bidang pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari Pembangunan Infrastruktur berupa bangunan sekolah (SD, SMP, SMA) serta Perguruan Tinggi Negeri (PTN) baru yaitu Universitas borneo tarakan. infrastruktur di Kota Tarakan mendapatkan nilai tertinggi jika dibandingkan dengan infrastrastruktur (fasilitas pendidikan) di beberapa kota yang pernah penulis kunjungi di Indonesia. Termasuk Kota pendidikan (Yogyakarta). Disamping infrastruktur, perhatian pemerintah kota terhadap kesejahteraan pendidik juga menjadi catatan khusus yaitu dengan diterapkannya kebijakan pemberian Tunjangan Penambahan Penghasilan (TPP) yang barang tentu menjadi motivasi ekstrinsik bagi para pendidik.
Kembali pada impian untuk menjadikan Tarakan menjadi "The New Singapore", kita memberikan analogi bahwa pada saat kita ingin mencontoh sesuatu, tentu kita harus mengenal dan bahkan mampu mendeskripsikan dari contoh yang akan kita tiru. Artinya, akan lebih bijak jika kita semua para generasi penerus Kota Tarakan meluangkan Waktu dan Menyisihkan sedikit penghasilan untuk bersedia mengunjungi Singapore sehingga bisa mencontoh beberapa sisi positifnya dan melihat prospek apa yang bisa dikembangkan di kota Tercinta ini.
Sebagai akhir kata
"Mari Kita Tanamkan di Alam Bawah Sadar Kita dan kita selalu bertindak yang mendukung terwujudnya Tarakan -ThE NeW SingaporE-"
Maret 28, 2011
Maret 17, 2011
Teori-teori Belajar dalam Pembelajaran (Persamaan dan Perbedaan)
• Behaviorisme. Aliran behaviorisme dimulai oleh John B. Watson yang berpendapat bahwa studi psikologi hendaknya mempelajari respon organisme terhadap stimuli. sehingga munculah formula ”S-R” (Stimulus Respon). Pengaruh Watson dalam bidang pendidikan cukup penting. Ia percaya bahwa dengan memberikan kondisioning tertentu dalam proses pendidikan, dapat membuat anak didik mempunyai sifat-sifat tertentu.
• Cognitivism. Cognitivism merupakan pendekatan yang lebih banyak menekankan pada perkembangan kognitif. Pendekatan ini merupakan dasar dari pengembangan teori konstruktivisme yang menekankan bagaimana peserta didik mengkonstruksi sendiri pengetahuannya.
• Humanism, Psikologi humanistic lebih menekankan pada individual dan keunikannya daripada aturan penemuan secara umum yang menjelaskan respon individu. Kaum humanism lebih focus pada perkembangan emosional daripada pemrosesan informasi atau stimulus respon.
Ketiga pendekatan tersebut memiliki karakteristik tersendiri yang saling membedakan satu sama yang lainnya. Begitu juga dengan para ahli dan pengembangan teorinya masing-masing.
Kaum Behaviorisme:
1. Pavlov (Classical Conditioning)
Ivan Pavlov seorang ahli psikologi asal Rusia merupakan salah satu ahli yang namanya selalu dikaitkan dengan pengkondisian kelas (Conditioning Classical). Pada suatu saat, dia meneliti pencernaan pada anjing. Apa yang dinyatakan oleh Pavlov dalam pelatihannya bahwa anjing yang ada di laboratoriumnya mulai mengeluarkan air ludah ketika melihat makanan, bahkan sebelum melihatnya. Lebih jauh lagi, mereka terlihat mengeluarkan air ludah ketika melihat para penjaganya dan bahkan ketika baru mendengar hentakan sepatu. Hal ini memberikan inspirasi kepada Pavlov untuk membuat serangkaian penelitian untuk mengetahui dengan lebih baik. Dia harus membunyikan bel atau sumber bunyi-atau sumber bunyi lain yang dapat memancing anjing dan kemudian dengan cepat menunjukkan makanan kepada anjing, sehingga stimulus yang diberikan menyebabkan anjing mengeluarkan air ludah. Pavlov memperhatikan bahwa jika prosedur tersebut diulangi cukup sering, bel dengan sendirinya akan menimbulkan respon anjing berupa mengeluarkan air ludahnya. Dalam penelitian Pavlov, bel dianggap sebagai Conditioned stimulus (CS); makanan sebagai Unconditioned Stimulus (US); Keluarnya ludah anjing sebagai respon terhadap makanan dianggap sebagai unconditioned Response (UR), dimana salivation sebagi respon terhadap makanan sebagai conditioned response (CR).
Dalam bentuk umum, stimulus atau situasi yang disediakan sebagai respon dapat dipasangkan dengan stimulus netral untuk membawanya ke dalam situasi yang telah dikondisikan. Belajar dengan cara ini sebenarnya merupakan tipe belajar yang tanpa disadari, yang mana pebelajar tidak memberikan respon terhadap stimulus yang telah dikondisikan karena mereka menjadi sadar bahwa terdapat hubungan antara dia dan stimulus yang tidak dikondisikan. Pada kenyataannya, kondisi kelas dapat diukur bahkan untuk respon yang berlebihan yang mana subjek biasanya tidak terkontrol.
2. Watson (Environmentalisme)
Menurut J.B Watson (1913-1916) yang mana kinerjanya banyak dipengaruhi oleh pemikiran Pavlov, menyatakan bahwa orang lahir dengan banyak refleks yang terbatas. Menurut penjelasan Watson, Belajar hanyalah sebuah persoalan yang dipengaruhi oleh pengkondisian kelas. Oleh sebab itu, perbedaan diantara individu seluruhnya merupakan fungsi dari pengalamannya.
Implikasi Teori Pendekatan Behaviorisme Pavlov’s dan Watson’s dalam Bidang Pendidikan.
Teori behavioristrik dengan karakteristiknya yaitu berpusat pada guru, pendekatan instruksi langsung dalam pengajaran, bertentangan dengan pendekatan teori konstrukstivisme. Dimana, pendekatan ini menekankan peran guru dalam mengatur situasi belajar dan memberikan/menyampaikan informasi melebihi peran siswa dalam menemukan dan memahami materi. Secara ringkasnya, beberapa implikasi dari teori pengkondisian kelas meliputi beberapa hal berikut ini:
Guru harus mengetahui apa yang dapat mereka maksimalkan, apa yang perlu ditekankan, dan potensi menyenangkan yang dapat dikondisikan di dalam kelas.
Guru harus mencoba untuk meminimalisasi aspek-aspek yang tidak menyenangkan bagi siswa, oleh karena itu harus dihilangkan beberapa potensi negatif yang tidak dapat dikondisikan di dalam kelas.
Guru harus mengetahui apa yang harus dipasangkan dengan apa di dalam kelas. Dengan kata lain apa yang saling berhubungan di dalam kelas.
3. Thorndike (Connectionisme)
Esensi dari penjelasan Thordike’s tentang bagaimana manusia belajar dapat diringkas sebagai berikut: Ketika diberikan suatu situasi, orang-orang memberikan berbagai macam respon sampai respon tersebut memberikan suatu solusi (oleh Thordike’s, situasi ini disebut sebagai “a satisfying state of affairs”). Kemudian respon tersebut dipelajari kembali, dimana Thordike’s menggunakan istilah “stamped in”. Akhirnya, proses belajar dipengaruhi oleh “stanped in” ini yaitu hubungan antara antara stimulus dan Respon. Oleh karena itu, teori ini disebut sebagai teori koneksionisme (connectionism).
Terkait dengan teori stimulus respon, terdapat dua penjelasan yang saling bersaing yaitu: contiguity dan Reinforcement. Contiguity yang dikembangkan oleh Pavlov’s dan Watson berisikan tentang kejadian yang simultan merupakan sesuatu peristiwa yang berhubungan dengan belajar. Pendapat yang kedua yaitu penjelasan tentang Reinforcement. Penjelasan ini dikembangkan oleh Thordike’s dan dipopulerkan oleh B.F. Skiner yang disebut sebagai pendekatan Reinforcement. Pendekatan ini menekankan pada konsekuensi dari sebuah respon dalam proses belajar.
Aturan-aturan Belajar Thordike’s
Berikut ini merupakan beberapa aturan dalam belajar yang dikembangkan oleh Thordike’s yang merupakan dasar dari teori bagaimana manusia belajar, diataranya:
The Law of Effect
Respon yang diukur hanyalah respon yang pertama dan apabila itu memuaskan maka akan dilakukan berulang-ulang.
The Law of Readiness
The Law of Exercise, Repealed
Aplikasi Teori Belajar Thordike’s dalam Pembelajaran
Kebanyakan penelitian dan tulisan Thordike’s berkaitan langsung dengan aplikasi dan penemuan di bidang pendidikan. Oleh karena itu, teorinya kaya dengan iplikasi dalam pembelajaran. Dari karakteristik dan penelitian-penelitiannya, teori belajar Thordike’s lebih banyak berkaitan dengan pendekatan belajar Behavioristik, dimana implikasi pembelajarannya lebih relevant dengan model pengajaran langsung (direct instruction) daripada pendekatan konstruktivist seperti belajar penemuan dan pendekatan kooperatif. Beberapa implikasi teori belajar Thordike’s menitikberatkan pada aspek-aspek berikut:
Menghagai percobaan-percobaan yang benar (rewarding correct trials)]
Membangun sikap (establishing attitude)
Kesiapan (Reediness)
Menarik Perhatian (attracting Attention)
Menyamaratakan generalisasi (Generalizing Generalization)
4. Skinner’s (Operant Conditioning)
B.F. Skiner’s merupakan salah satu ahli psikologi terkenal pada abad ke-20 yang merupakan pengembang dan pembicara dari teori Operant Conditioning. Teori ini merupakan cakupan dari pendekatan Reiforcement (penguatan) yang sebelumnya dikembangakan oleh Thorndike’s. B.F. Skiner’s membuat defiisi tersendiri tentang reinforcement. B.F. Skiner’s membuta perbedaan mendasar antara apa yang dimaksud dengan reinforcer dan reinforcement. Reinforcer adalah situasi yang ditetapkan oleh Skinner, yaitu stilmulus. Sementara, reinforcement adal pengaruh dari stimulus yang diberikan. Arti lebih luas dari reinforcer dalah beberapa stimulus yang meningkatkan kemungkinan terjadinya respon yang dapat diukur. Konsep dari teori operant Conditioning secara umum meliputi beberapa konsep, diantaranya:
Penguatan positif
Penguatan negatif
Hukuman Positif
Pembentukan
Generalisasi
Diskriminasi
Pemadaman
5. Gagne (Conditioning of Learning)
AnalisisGagne’s tentang bagaimana manusia belajar mengidentifikasi lima ktegori atau lima macam belajar. Kelima kategori belajar tersebut diantaranya: Informasi verbal, keterampilan intelektual, keterampilan motorik, sikap, dan strategi kognitif. Ciri-ciri dari kelima kategori tersebut secara detail disajikan dalam tabel berikut ini:
Perlu diperhatikan bahwa dari kelima kategori tersebut, perbedaan utama antara invormasi verbal dan keterampilan intelektua adalah perbedaan tentang apa yang akan diketahui yaitu antara ”mengetahui apa” dan ”mengetahuii bagaimana”. Setiap kategori dari kelima kategori belajar diatas diperoleh dengan cara yang berbeda-beda. Yang mana, setiap kategori mengharuskan sekumpulan keterampilan prasyarat yang berbeda dfan sekumpulan proses kognitif yang berbeda juga. Keharusan ini oleh Gagne disebut sebagai kondisi internal dalm belajar (internal conditions of learning).
Gagne juga menggambarkan beberapa tipe stimulus lingkungan yang dibutuhkan untuk mendukung proses kognitif pebelajar selama belajar. Stimulus-stimulus tersebut lebih dikenal sebagai kondisi eksternal dari belajar (external conditions of learning). Disamping itu, Gagne juga menunjuk beberapa peristiwa dalam pengajaran dan perannya dalam mendukung pembelajaran sepertti yang ditunjukkan dalam bagan berikut:
Aplikasi Teori Belajar Gagne dalam Pembelajaran Matematika
Menurut Gagne obyek matematika terdiri dari dua, yaitu :
Obyek langsung yang meliputi fakta, operasi, konsep dan prinsip
Obyek tak langsung yang meliputi kemampuan menyelidiki, memecahkan masalah, disiplin diri, bersikap positif dan tahu bagaimana semestinya belajar.
Gagne membedakan delapan tipe belajar yang menurut kesukarannya dari yang sederhana sampai kompleks sebagai berikur :
1) Belajar isyarat (signal learning); belajar sesuatu tanpa disengaja, tapi hanya sebagai akibat dari adanya rangsangan disekitarnya. Misalnya sikap senang dalam belajar matematika karena guru yang mengajar sangat menyenangkan.
2) Belajar stimulus respon (stimulus respon learning); belajar sebagai suatu proses yang sengaja diciptakan tetapi masih bersifat jasmaniah. Misalnya melukis beberapa bentuk segitiga setelah guru menjelaskannya.
3) Rangkaian gerak (motor chaining); belajar sebagai kegiatan jasmaniah terurut dari dua atau lebih rangsangan. Misalnya ketika siswa ingin melukis suatu garis
4) Rangkaian verbal (verbal chaining); belajar sebagai kegiatan mental terurut berdasarkan dua atau lebih rangsangan. Misalnya ketika siswa belajar tentang perkalian bilangan rasional.
5) Belajar membedakan (different learning); belajar memisahkan rangkaian-rangkaian yang bervariasi. Misalnya siswa dalam membedakan lambang yang digunakan dalam matematika.
6) Belajar konsep (konsep learning); belajar pengelompkan dimana sisiwa belajar mengenal sifat-sifat yang sama dari suatu benda atau peristiwa. Misalnya dalam memahami konsep lingkaran.
7) Belajar aturan (rule learning); belajar tentang aturan-aturan atau hukum yang berlaku dalam matematika. Misalnya hukum yang berlaku pada operasi bilangan bulat.
Pemecahan masalah (problem solving); belajar melalui masalah baru yang baru dikenalnya saat itu dan belum mempunyai prosedur penyelesaiannya, tetapi telah memiliki prasyarat. Misalnya pemecahan masalah dalam soal olimpiade matematika.
Kaum Cognitivisme
1. Teori Bruner : Belajar Penemuan (Discovery Learning)
Psikologi kognitif mengasumsikan bahwa belajar adalah suatu kegiatan aktif pemrosesan informasi. Beberapa pertanyaan terkait tentang ini diantaranya: bagaimana pebelajar memperoleh informasi dari lingkungannya, bagaimana informasi itu diolah dan ditafsirkan, dan bagaimana itu digunakan. Teori Jerome Bruner’s memberikan sekumpulan jawaban terkait tentang pertanyaan-pertanyaan tersebut dan beberapa pertanyaan lainnya. Belajar dan persepsi, dijelaskan oleh Bruner sebagai ”… perception are information processing activities that reflect our need to simplify and make sense of the environment”. Ini berarti bahwa belajar dan persepsi merupakan aktivitas pemrosesan informasi yang menggambarkan keperluaan menjadi sederhana dan membuat pengertian mendasar tentang lingkungan. Lebih utama lagi, dipermudah dalam membuat pengertian tentang alam dengan membangun konsep. Bisa juga dengan membuat elemen-elemen umum yang abstrak diantara beberapa kejadian atau penelitian. Dari abstraksi tersebut, diperoleh aturan secara implisit yang dapat digunakan untuk mengkatorgorikan alam. Pada saat yang sama, kita menemukan dan menciptakan banyak hubungan diantara konsep-konsep. Hubungan diantara konsep-konsep tersebut sebagaimana didefinisikan oleh bruner disebut sebagai ”Coding System” atau sistem persandian. Coding System adalah sebuah kiasan sederhana untk apa yang diasumsikan sebagai sebuah susunan yang hirarki dari konsep-konsep yang ditingkatkan (atau diturunkan) sebagai keadaan umum. Oleh karena itu, memori jangka panjang kita (simpanan pengetahuan secara permanen, pengaruh perencanaan, dan lainnya yang dapat) dapat dipandang sebagai perencanaan yang kompleks dari kategori-kategori (konsep) atau sistem persandian. Dan seluruh subjek sekolah, dapat dipandang memiliki kemiripan bentuk struksur. Struktur dari sebuah subjek, menurut Bruner, mencerminkan hubungan mendasar dan ide dalam suatu bidang. Dengan demikian, untuk sungguh-sungguh belajar tentang suatu subjek dan dapat berpikir tentang itu, pebelajar memerlukan pengembangan sistem persandiannya sendiri (termasuk rep[rsentasi mental dan ide-ide penting dalam persahabatan). Dan cara terbaik untuk mengembangkan sistem persandian adalah dengan menemukannya lebih dari apa yang ditunjukkan sebagai bentuk akhir dari seorang guru.
Belajar Penemuan di Sekolah.
Seperti yang ditunjukkan dalam teori perkembangan kognitif, Piaget menggambarkan salah satu cara untuk menggambarkan perkembangan kognitif. Sebagai fungsi dari interaksi dengan lingkungan (melalui asimilasi dan akomodasi), Piaget mengatakan, anak-anak secara berangsur-angsur membangun gudang dari pengetahuannya. Dalam pemikiran yang sangat relita, ini dinyatakan dengan pebelajar membangun (construct) pengetahuannya, berlawanan dengan situasi dimana pebelajar diberikan pengetahuan oleh sesorang (misalnya, orang tua atau guru).
Teori Bruner didasari oleh pemikiran yang sama, sebuah keyakinan bahwa itu merupakan dasar pendekatan konstruktivis dalam mengajar. Dan fungsi sekolah, mendesak dengan tegas, harus memberikan kondisi yang akan membantu perkembangan hubungan dalam penemuan. Discovery Learning atau belajar penemuan dapat didefinisikan ”As the learning that take places when students are not presented with subject matter in its final form but rather are requires learner to organize it themselves”. Yang kurang lebih berarti suatu pendekatan belajar dimana siswa tidak diberikan bentuk akhir dari sebuah subjek melainkan mereka diwajibkan untuk membangun/mengaturnya. Dalam teori Bruner, penemuan adalah sebuah formasi kategori-kategori, lebih sering disebut formasi dari sistem persandian (kemiripan atau perbedaan) yang ada pada beberap objek atau peristiwa.
Yang paling penting dan karakteristik paling nyata dari pendekatan penemuan untuk mengajar bahwa diwajibkan jauh lebih sedikit pengaruh guru dan petunjuk daripada metode lainnya. Menurut Bruner, pendekatan penemuan memiliki kelebihan misalnya dalam fasilitas transfer belajar dan ingatan, meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, dan meningkatkan motivasi (Bruner dalam Lefrancois,1999:209).
Kondisi-kondisi yang Memudahkan Belajar Penemuan
Bruner menyatakan terdapat empat kumpulan kondisi yang dapat memberikan kontribusi terhadap belajar penemuan, diataranya: perlengkapan (set), keadaan (need state), penguasaan khusus (mastery of specific), dan perbedaan pelatihan (diversity of training).
Metode Berorientasi Penemuan untuk Kelas Konstruktivis.
Sebagaimana kita lihat, pendekatan konsruktivis merupakan pendekatan yang berasumsi bahwa siswa harus membangun (mengkonstruksi) pengetahuannya sendiri. Oleh karena itu, pendekatan konstrukstivis pada dasarnya berorientasi penemuan.
Terkait dengan hal itu, Bruner mengajukkan beberapa rekomendasi dan pengamatan yang penting untuk konstruktivis, pembelajaran berbasis penemuan. Beberapa diantaranya adalah:
”...the curricullum of a subject should be determined by the most fundamental understanding that can be achieved of the underlying principles that give structure to the subject” Brunner Advises (Lefrancois, 1999:212).
“…any subject can be taught to any child in some honest”.
Bruner menyarankan bahwa pendekatan yang sangat bermanfaat dalam mengorganisasikan topic di sekolah adalah “Spiral Curriculum”. Kurikulum spiral merupakan salah satu pengembangan dan pengembangan kembali topik pada tingkat/jenjang yang berbeda.
”...a student should be given some training in recognizing the plausibility of guesses”.
Bruner merekomendasikan untuk kelas yang berorientasi penemuan perlu juga dipertimbangkan bahwa guru menggunakan sebanyak mungkin tujuan dalam mengajar (audiovisual, konkrit atau model simbolik, dan sumber informasi dan inspirasi berupa multimedia).
2. Teori Ausubel: Reception Learning
Tidak semua pendidik setuju bahwa penemuan adalah pendekatan terbaik. Salah satu ahli yang memiliki pendapat lain yaitu David Ausubel (1963, 1977). Dalam teorinya, Ausubel menyatakan bahwa kebanyak orang belajar dimulai dengan Belajar menerima (reception learning), dan bukannya penemuan. Lebih lanjut dikatakan, kebanyakan darib apa yang siswa pelajari secara relatif diterima dalam bentuk final, bukan ditemukan sendiri.
Teori Kognitif Ausubel
Teori kognitif Ausubel dalam belajar lebih khusus berkaitan dengan apa yang disebutnya sebagai ”meaningful verbal learning”. Sebagiian besar perhatian Ausubel dalam psikologi pendidikan berfokus pada ”laws of meaningful classroom learning” yaitu hokum/aturan belajar bermakna di kelas.
Belajar Bermakna (Meaningful Learning). Belajar bermakna menurut Ausubel mengharuskan pebelajar memiliki kesiapan untuk belajar berkaitan dengan konsep mana yang dapat dikaitkan dengan materi belajar atau dengan kata lain, Ausubel menyatakan bahwa konsep dapat ”memasukan” pengetahuan baru. Dalam model belajar Ausubel (sebagian besar seperti teori Belajar Bruner’s), pengkonstruksian dari pengetahuan yang baru secara mutlak bergantung pada belajar bermakna yang telah dilakukan sebelumnya. Seperti yang disampaikan Novak (1993) menyatakan, belajar bermakna tingkat tinggi sangat diperlukan untuk perkembangan kognitif dan konstruksi pengetahuan baru. Disisi lain, struktur kognitif yang dinyatakan oleh Ausubel juga sebagian besar mirip dengan apa yang dinyatakan oleh Bruner. Ausubel menyatakn bahwa pengajaran harus diproses dari ide yang sangat umum sampai dengan menghargai hal yang sangat spesifik.
Membuat Belajar Bermakna. Ausubel menekankan pada belajar penerimaan yang bersebrangan dengan belajar penemuan yang didasari pada keyakinan bahwa sebagian besar yang diperlukan dalam belajar adalah bermakna, sebagai lawan dari belajar melalui menghapal (Rote Learning). Ausubel mengatakan, belajar adalah bermakna ketika terdapat hubungan yang sangat jelas antara materi yang baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki.
3. Jean Piaget: Teori Perkembangan Kognitif
Fokus dari teori Piaget’s adalah perkembangan hakekat sejak lahir hingga dewasa. Memahami teori ini bergantung pada pemahaman terhadap asumsi biologis dariamana itu diperoleh dan pemahaman terhadap asumsi tersebut untuk pendefisisian pengetahuan.
Dalam perkembangan kognitif, Piaget menyatakan terdapat empat faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan dari fungsi kognitif, diantaranya: Lingkungan fisik (the physical environment), kedewasaann (maturation), pengaruh sosial (social influences), dan kontrol diri (self-regulation) yang sering disebut penyeimbangan (Equilibration). Kontak dengan lingkungan fisik sangat diperlukan karena interaksi antara individual dan alam merupakan sumber dari pengetahuan yang baru. Disisi lain, kematangan atau kedewasaan merupakan kegelisahan juga penting karena ini mengizinkan anak untuk mendapatkan keuntungan maksimum dari penelitian fisik. Dengan kata lain, kedewasaan memeberikan kesempatan untuk pengembangan, dimana hambatan untuk menentukannya dibatasi oleh pencapaian kognitif. Faktor ketiga yaitu lingkungan sosial, termasuk peran bahasa dan pendidikan. Pentingnya lingkungan sosial seperti pengalaman, misalnya pengalaman fisik, dapat mempercepat pengembangan struktur kognitif. Ketiga faktor yang telah disebutkan tersebut merupakan faktor klasik yang telah ditentukan oleh teori-teori lain yang berpengaruh terhadap perkembangan. Sebagai tambahan, Piaget menentukan faktor keempat, yaitu Eqilibration. Faktor ini merupakan kontrol diri atau proses evaluasi diri oleh pebelajar yang sangat berfungsi dalam perkembangan.
Hakekat intelegensi
Teori Belajar secara tradisional memiliki pengertian ”belajar” dan ”intelegensi” secara terpisah, tetapi berelasi dan merupakan satu kesatuan. Intelegensi terlihat sebagai subjek kronis yang dapat diukur secara kuantitatif. Sementara belajar dipertimbangkan sebagai subjek khusus yang diukur dalam parameter yang luas dengan menggunakan intelegensi.
Intelegensi sebagai Proses. Menurut Piaget, intelegensi bukan merupakan ciri statis yang dapat dinilai secara kuantitatif. Sebagai tambahan, intelegensi adalah proses yang berjalan dan selalu berubah. Ini merupakan suatu mekanisme yang mana individu selalu berinteraksi dengan lingkungannya dalam berbagai kesempatan dan merupakan sebuah proses yang dikonstruksi secara kontinu. Intelegensi, seperti sebuah sistem biologis, mengambil dasar-dasar tertentu dari lingkungan dan kemudian membangun struktur yang diperlukan pada fungsi yang lain. Oleh karena itu, intelegensi selalu aktif dan dinamis.
Pengetahuan sebagai Proses. Piaget secara khas melihat bahwa pengetahuan adalah merupakan kreasi dari pengetahuan, yaitu individu dan objek sebagai suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Pengetahuan selalu berisi komponen-komponen subjektif, oleh karena itu, ini selalu berhubungan dan bukan merupakan suatu hal yang telah diberikan diawal.
Komponen-komponen Perkembangan Kognitif
Inti dari teori ini merupakan suatu pemahaman yang mana hasil dari perkembangan seseorang/individual dari satu tingkat pengetahuan menuju tingkat tinggi. Pusat dari teori ini meyakini bahwa pengetahuan dikonstruksi oleh individu dalam proses yang berkelanjutan dan bahkan berubah-ubah akibat interaksi dengan lingkungannya. Untuk memahami mekanisme dari perkembangan kognitif, Piaget menggambarkan fungsi intelektual dari tiga perspektif, yaitu: Proses dasar yang mempengaruhi interaksinya dengan lingkungan (asimilasi, akomodasi , dan equilibrasi), Cara mengkonstruksi pengetahuan (fisik dan pengalaman logika-matematika), dan perbedaan kualitatif dalam berpikir yaitu perbedaan tingkat perkembangan (bayi, pra-operasional. Konkrit dan formal).
Proses Dasar
Perkembangan kognitif menurut piaget dipengaruhi oleh tiga proses dasar, yaitu asimilasi, akomodasi, dan equilibrasi. Asimilasi adalah interaksi diantara beberapa data yang terdapat dalam struktur kognitif, akomodasi adalah penyesuaian struktur kognitif dengan situasi yang baru, dan equilibrasi adalah penyesuaian lebih lanjut antara asimilasi dan akomodasi.
Konstruksi Pengetahuan
Proses mendasar dalam konstruksi pengetahuan adalah asimilasi dan akomodasi yang dikontrol dengan equilibrasi. Sebagai tambahan, Piaget menggambarkan pengkonstruksian pengetahuan sebagai bentuk dari tipe pengetahuan dan pengalaman yang digunakan oleh pebelajar. Yang meliputi dua hal, yaitu: Pengalaman fisik dan pengalaman logika matematika.
• Pengalaman Fisik. Sumber pengalaman baru bagai pebelajara dalam pengalaman fisik adalah beberapa objek yang berada di luar pebelajar. Dalam proses, salah satunya adalah abstraksi dari karakteristik objek fisik oleh pebelajar.
• Pengalaman Logika-Matematika. Sifat-sifat fisik dari objek adalah suatu proses abstraksi dan integrasi kedalam mental anak melalui pengalaman fisik. Penggolongan yang dilakukan melalui sentuhan langsung dengan lingkungan yang merupakan sumber dari pengetahuan dimana beberapa objek langsung dari pebelajar dapat diperoleh. Disisi lain, sumber pengetahuan dalam pengalaman logika-matematika adalah pebelajar sendiri, yaitu melalui prosesnya.
Tingkatan-tingkatan dalam Perkembangan Kognitif
Penelitian terbaru yang dilaksanakan oleh Piaget (1967) yaitu untuk menyelesaikan kertas kerja yang menganalisis proses berpikir. Secara sfesifiknya, empat periode atau tingkatan dalam perkembangan kognitif diiidentifikasi dalam Penyelidikan terbarunya terkait tentang bagaimanan anak berpikir. Keempat tingkatan tersebut diantaranya: sensori motorik, praoperasional, operasional konkrit, dan operasional formal. Keempat tingkatan tersebut secara lebih detail disajikan dalam tabel berikut:
Diadaptasi dari : Bell-Gredler (1986:205)
Dari keempat tahap tersebu, perlu diperhatikan tahap ketiga yaitu operasional konkrit. Pada tahap ini terjadi perkembangan inklusi operasional, seriation, dan konstruksi dari konservasi bilangan (panjang, zat, berat dan volume). Anak-anak mengkonstruksi perkembangan struktur kognitifnya secara berangsur-angsur yang diawali dengak konflik kognitif, kebimbangan dalam menentukan pilihan, dan diakhiri dengan pemecahan dari konflik tersebut.
DAFTAR RUJUKAN
Bell-Gredler, Margaret E. 1986. Learning and Instruction. Macmillan Publishing Company, 866 Third Avenue, New York 10022.
Elliot, Stephen. 2000. Educational Psychology: Effective Teaching, Effective Learning. (3th Ed). The McGraw-Hill Companies:United States.
Knowles, Malcolm. 1986. The Adult Learner; a neglected species. Gulf Publishing Company.
Lefrancois, Guy R. 1999. Psychology for Teaching. (10th ed). Belmont-USA
Sudjana, Nana. 1991. Teori-teori Belajar untuk Pengajaran. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas indonesia.
Januari 13, 2011
Perhitungan Matematis “Hari Raya Galungan” dalam Agama Hindu (Refleksi Artikel ”Ritual Mathematic”
Sebagaimana halnya kebiasaan masyarakat Jawa, perhitungan masyarakat Bali dalam menentukan jatuhnya hari-hari suci (Hari Raya Galungan, kuningan, Pagerwesi, Hari Saraswati, Banyupinaruh, Buda Keliwan, Anggara Kasih, dll) juga menggunakan perhitungan yang lebih banyak dipelajari secara informal yaitu dalam lingkup keluarga dan dalam menentukan datangnya perayaan hari suci tersebut, terdapat implementasi dari materi pelajaran matematika. Sebagai contoh, perayaan hari Raya Galungan yang pada hari (dalam bahasa bali disebut Dina) ”Buda Keliwan Dungulan” ternyata menerapkan konsep Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK). Perhitungan ini menggunakan perhitungan ”Sapta Wara”, ”Panca Wara” dan ”Pawukuan/Pawukon”.
Sapta Wara merupakan perhitungan hari yang sesuai dengan perhitungan hari pada kalender Masehi yaitu terdiri dari 7 hari.. Hari pertama, yaitu hari Minggu = Redite, Senin = çoma, Selasa = Anggara, Rabu = Buda, Kamis = Wrespati, Jumat = Sukra, dan Sabtu = Saniscara.
Panca Wara merupakan perhitungan hari dengan anggota 5 yaitu, Umanis, Pahing, Pon, Wage, Keliwan. Sementara Pawukuan terdiri dari 30 anggota yaitu: Sinta, Landep, Ukir, Kulantir, Tolu, Gumbreg, Wariga, Warigadian, Warigadian, Julungwangi, Sungsang, Dungulan, Kuningan, Langkir, Medangsia, Pujut, Pahang, Merakih, Tambir, Medangkungan, Matal, Uye, Menali, Perangbakat, Bala, Ugu, Wayang, Kelawu, Dukut, Watugunung. Setiap Wuku terdiri dari 7 hari, dengan kata lain pergantian wuku satu ke wuku lainya adalah setiap 7 hari.
Melihat uraian di atas, maka Dina ” Buda Keliwan Dungulan” merupakan hari yang jatuhnya tepat pada hari ke-4 dari ”Sapta Wara”, Hari ke-1 dari ”Panca Wara” dan Wuku ke-10 dari ”Pawukuan”. Dengan mengimplementasikan konsep KPK, berarti hari/dina yang sama menurut ”Sapta wara, Panca wara, dan Pawukon” akan akan datang setipa ”210” hari, yaitu KPK dari 5, 7, dan 30. Ini berarti Hari raya Galungan datangnya setiap 210 hari. Begitu juga dengan hari-hari suci lain yang peringatanya berdasarkan Wuku.
Terima Kasih (Jero)
Desember 22, 2010
Lama
salam
-jero-
Desember 30, 2009
"Menghilang"
Menghilang, itu barangkali kata yang tepat untuk saya jika dilihat dari sudut padang dan identitias seorang blogger. Namun apakah saya benar-benar menghilang????? Ya.
Ya, saya menghilang dari dunia blogger, tapi sejatinya saya munculo dan tumbuh di lingkungan baru. Namun, kenapa saya tidak bisa bermuka dua ataupun menjadi dasamuka untuk sesuatu yang positif???? Barangkali jawabannya adalah keterbatasan, keterbatan dalam kemampuan manajemen (Waktu, pikiran, keuangan, etc).
April 03, 2009
VALIDITAS TES DALAM BIDANG PENDIDIKAN
Terdapat beberapa hal yang perlu ditekankan atau diingat terkait dengan validitas suatu tes, diantaranya:
1) Konsep dari validitas diterapkan sebagai cara untuk interpretasi dan menggunakan hasil penilaian siswa serta tidak hanya pada prosedur penilaiannya.
2) Hasil penilaian memiliki kekuatan validitas yang berbeda tergantung pada tujuan dan situasinya.
3) Anda harus membuat keputusan tentang validitas dari interprestasi yang anda berikan atau menggunakan hasil penilaian siswa hanya setelah pembelajaran berlalu dan dikombinasikan dengan beberapa tipe bukti validitas.
Makna dari Validitas Tes
Terdapat dua aspek penting terkait dengan validitas, yaitu: Apa yang diukur dan bagaimana mengukurnya dengan tepat. Secara tradiseional, validitas menekankan pada karakteristik tes, yang pada umumnya mementingkan kualitas tes. Namun, pemikiran terbaru tentang pengukuran menekankan bahwa validitas harus dikaitkan dengan kegunaannya dalam membuat skor dari sebuah tes (Joint Technical Standars for Educational and Psychological Testing dalam Ebel, 2007:90) .
Empat Prinsip untuk Validitas
Keempat prinsip ini akan cukup membantu dalam menentukan keputusan tentang validitas tes hasil penilaian (Messick dalam Nitko, 2007:38):
1) Interpretasi atau makna yang anda berikan terhadap hasil penilaian siswa anda valid hanya pada tingkat yang mana anda dapat menujukan bukti bahwa semua itu memiliki ketepatan dan hubungan dengan mereka
2) Kegunaan yang dapat dibuat dari hail penilaian anda valid hanya apada tingkat tertentu yang mana dapat menunjukkan bukti bahwa itu menunjukkan keseuaian dan ketepatan dengan mereka.
3) Interpretasi dan kegunaan dari hasil penilaian adalah valid hanya jika nilai mereka menyiratkan ketepatan
4) Interpretasi dan kegunaan dari hasil penilaian adalah valid hanya jika konsekuensi dari interpretasi dan kegunaan tersebut konsisten dengan nilai yang diharapkan.
Bukti yang Digunakan untuk Mendukung Validitas Tes
Dalam proses penilaian, terdapat tiga jenis bukti validitas yang dapat digunakan dalam menunjukkan kevalidan suatu hasil penilaian, diantaranya: validitas isi, validitas berdasarkan kriteria, dan validitas konstruk. Pokok dari ketiga bukti validitas tersebut disajikan dalam tabel berikut (Popkam) :
Tipe Bukti Validitas
• Validitas Isi
• Validitas Berdasarkan Kriteria
• Validitas Konstruk
a. Validitas Isi
Salah satu tipe dalam penentuan kesimpulan harus dikaitkan dengan intisari dari validitas tes. Dalam hal ini, dalam menulis suatu tes, kita ingin mengambil kesimpulan bahwa siswa yang mendapat skor tinggi dalam tes akan hati-hati dan lebih bertanggung jawab daripada siswa yang mendapatkan skor rendah. Untuk mengerjakan semua itu, isi tes harus berdasarkan pada definisi lain dari ”safe driving ability” yang dapat menggambarkan pengetahuan, keterampilan, dan pengertian dari kehati-hatian harus diberikan komando.
Berikut ini, para pembuat tes kemampuan kognitif biasanya menghasilkan bukti validitas dalam prosesnya jika:
Mendefinisikan secara eksplisit kemampuan yang akan diukur
Menjelaskan secara detail tugas-tugas yang termasuk dalam tes
Menjelaskan alasan untuk menggunakan beberapa tugas untuk mengukur kemampuan dalam suatu pertanyaan.
Menulis dokumen yang berisikan komponen-komponen tersebut menghasilkan suatu rasional eksplisit yang mengindikasikan apa sebenarnya yang diukur oleh tes dan ini merupakan bukti untuk Validitas Rasional Intrinsik. Namun permasalahanya, para pembuat tes termasuk guru, bertujuan untuk menghsilkan tes yang mengandung validitas intrinsik, tetapi mereka jarang menyatakan secara eksplisit tujuan tersebut. Mereka jarang memperhatikan proses pengkonstruksian tes sebagai proses validasi tes: Jarang dokumen mereka menuliskan alasan untuk membuat keputusan dalam pengembangan tes. Dan pada dasarnya, siapapun yang mempersiapkan diri untuk membuat tes yang memuat validitas instrinsik harus menunjukkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikut:Tentang apa sekumpulan keputusan yang akan dibuat?
Apa domain yang akan diukur, apakah pengetahuan, keterampilan, atau tugas yang menunjukkan dasar dari pengambilan keputusan?
Apa kepentingan relatif dari subdomain yang teridiri dari definisi domain?
Jenis kekayaan atau isi apa yang dimiliki oleh item tes yang akan memberikan jaminan bahwa prestasi yang diukur merupakan elemen dari domain?
Apakah item tes cukup menggambarkan domain pengetahuan, keterampilan, dan tugas?
Apakah bagian dari item-item tes cukup mewakili bentuk dari kepentingan relatif sub domainnya?
Domain atau subdomain apa yang berada di luar domain yang menarik ditunujukkan dalam tes?
Ketujuh garis besar tersebut menekankan bahwa apa yang diukur oleh tes atau bermaksud untuk diukur. Cronbach (dalam Ebel) menganjurkan bahwa apa yang diukur oleh tes kurang penting dibandingkan dengan apa yang seharusnya diukur.
Untuk Validitas Kriterian dan Validitas Konstruk akan segera ditambahkan,.
***
Nitko, A & Brookhart S. 2007. Educational Assessment of Student. (5th Ed). Pearson Education, Inc, Upper Sadlle River, New Jersey 07458.
Ebel, R. & Frisbie, D.A. Essentials of Educational Measurement. (4th Ed). Prentice Hall, Inc., Englewood Cliffs, New Jersey 07632.
Popkam, W.J,….Clasroom Assessment: What teacher Need to Know.
Maret 17, 2009
MENGAKOMODASI PERBEDAAN INDIVIDU
Anak-anak Berbeda
Anak-anak berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Beberapa diantara perbedaan tersebut masih berada pada taraf normal, sehingga tidak memerlukan kebijakan khusus. Disisi lain, perbedaan dalam bentuk lain disebut sebagai ketetapan yang harus dibuatkan situasi khusus dalam pembelajaran.
Perbedaan Intelektual
Anak-anak berbeda dalam tingkat kecerdasannya. Kapasitas intelektual anak secara tradisional diukur dengan menggunakan tes IQ. Namun, validitas tes IQ merupakan subjek yang masih diperdebatkan secara terus-menerus, dan beberapa kritik serta klaim bahwa tes IQ merupakan diskriminasi dan berlawanan bagi anak dengan latar belakang sosial ekonomi rendah.
Perbedaan Tingkat Pencapaian
Salah satu bentuk nyata untuk melihat perbedaan anak adalah dengan memeriksa hasil pencapaian dalam tes matematika standar. Tingkat pencapaian anak merupakan suatu fungsi yang menunjukkan nilai belajar anak. Murid dalam posisi puncak di suatu kelompok biasanya mampu belajar matematika dengan cepat, sementara murid dengan posisi terendah di dalam kelas biasanya merupakan pebelajar yang lambat. Pada posisi tengah-tengah, sekitar 50 persen diantaranya memiliki kemampuan yang merata dalam pencapaian matematika.
Perbedaaan Lingkungan Keluarga
Anak-anak berasal dari berbagai lingkungan keluarga. Anak dari keluarga berada dengan pendidikan yang memadai biasanya datang ke sekolah dengan latar belakang berbagai pengalaman lebih cenderung menjadi pebelajar yang cepat. Sebaliknya, anak yang berasal dari keluarga kurang mampu dan dengan latar belakang orang tua tanpa pendidikan cenderung menjadi pebelajar yang lambat.
Lingkungan keluarga selalu memberikan pengaruh terhadap sikap anak dalam menghargai matematika. Penelitian menujukkan adanya korelasi positif antara sikap anak terhadap matemtika dengan sikap orang tua terhadap mata pelajaran ini.
Latar Belakang Budaya dan Etnis
Anak-anak juga berbeda diapandang dari segi latar belakang budaya dan etnis. Motivasi untuk belajar berbeda antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya, layaknya anak-anak tertarik dan menilai pencapaiannya dalam suatu pendidikan.
Faktor Pendidikan
Faktor pendidikan mempengaruhi prestasi dalam bidang akademik. Anak-anak yang memperoleh hasil yang selalu efektif, penuh arti, sebagai contoh program matemtika yang dianjurkan, cenderung berada di atas rata-rata dan menjadi pebelajar yang cepat. Murid yang memiliki sedikit pengalaman, seringnya mengikuti metode drill tanpa akhir untuk belajar teknik menghitung dan menghapalkan operasi dasar matematika biasanya mengalami kesulitan dalam memahami matemtika dasar tahap lanjut.
Sementara itu, Ronberg dan Montgomery (dalam Shumway, :1980:325)i menyatakan bahwa tedapat beberapa hal penting tentang perbedaan individuyang penting untuk pembelajaran, diantaranya: 1) Pencapaian siswa dan perbedaan kecepatan, 2) Perbedaan dari segi prestasi dan kenaikannya di kelas, 3) Prestasi sering ditandai dengan luapan perasaan yang berbeda diantara siswa, dan 4) perbedaan dalam diri individu mungkin kadang lebih kuat dari perbedaan antar individu. Disisi lain, penelitian yang dilakukan Preckelii (2008) menyelidiki pengaruh gender terhadap konsep diri, ketertarikan, dan motivasinya dalam bidang matemtika dan menyimpulkan bahwa perbedaan gender dalam hal konsep diri, ketertarikan, dan motivasi dalam matemtika lebih merata pada siswa berbakat daripada siswa dengan kemampuan merata.
Menghadapai Perbedaan Individu dengan Kemampuannya masing-masing di dalam Kelas
Terdapat bermacam-macam cara untuk menghadapi perbedaan individu terkait dengan kemampuan matematika dasarnya. Iswa dengan kemampuan rata-rata cenderung berorientasi pada buku, pebelajar lambat tidak diharapkan mampu membicarakan semua topik dalam progra reguler, dan pebelajar cepat cenderung memerlukan pendalaman materi dan pengayaan dalam pemecahan masalah. Pebelajaran lambat dalam tingkat penyelidikan memerlukan bantuan benda-benda konkrit, sementra pebelajar cepat memerlukan penguasaan.
Terdapat dua keuntungan memiliki siswa yang memiliki perbedaan tingkat kedewasaan dan kemampuan operasi. Pertama, program relatif mudah untuk dikelola. Semua siswa memulai setiap unit secara bersama-sama dalam sebuah kelompok. Kedua, efektif dalam pemberian tugas dan pengelolaannya.
Namun perlu disadari bahwa anak-anak dalam belajar matemtika memiliki keperluan yang berbeda dalam waktu yang berbeda. Kita harus mampu melaksanakan pembelajaran dengan mempertimbangkan kepentingan per individu dan kelompok.
Variasikan waktu, karena beberapa anak membutuhkan tambahan waktu dalam menyelesaikan tugas-tugasnya
Variasikan perhatian. Ada anak yang tidak mampu memahami apa yang terdapat dalam buku dan apa yang disampaikan dan dibicarakan guru.
Memanfaatkan orang-orang. Guru tidak mungkin mampu memberikan pelayanan kepada setiap siswa untuk belajar matemtika dalam waktu bersamaan. Oleh karena, terdapat beberapa cara untuk memiliki beberapa asisten dalam pembelajaran, misalnya dengan membentuk kelompok kecil, belajar dalam suatu kelompok belajar, dan meminta orang tua sebagai tutor belajar di rumah.
Variasikan kurikulum pembelajaran. Beberapa topik dapat diberikan untuk kelas, tapi ada juga topik yang secara khusus dipilih untuk individu.
Variasikan penyampaian materi/pengajaran.Pembelajaran harus divariasikan dan disesuaikan dengan kebutuhan siswa.
Variasikan metode mengajar. Variasikan pendekatan pengajaran dengan memperhatikan keseimbangan dan diikuti dengan teknik yang tepat. Misalnya penemuan mandiri, penemuan terbimbing, presentasi. Langkah mandiri, penugasan individu, diskusi kelompok kecil, dan bersama seluruh kelas, penyampaian oleh guru. Aktivitas yang dikontrol oleh guru, penugasan bebas.
Mastery Learning, Pendekatan Berbasis Kelompok
Callahan dan Glennon melaporka”....simply narrowing the ability range does not necessarily result in better anjustment of method or content and does not necessarily result in increased achievement” ini mengindikasikan bahwa pengelompokan siswa berdasarkan tingkat kemampuannya bukanlah hal yang penting untuk meningkatkan prestasi siswa. Pendekatan Mastery-Learning merupakan pendekatan diusulkan untuk memberikan jalan kepada semua siswa menggunakan kesempatannya mendapatkan penguasaan tingkat tinggi. Ini bukan hanya membantu siswa yang mengalami keterlambatan dalam kemampuan matemtika, tetapi juga memotivasi siswa dengan kemapuan belajar cepat untuk mampu melebihi tuntutan minimum.
Kemandirian, Belajar Sendiri
Kemandirian, belajar mandiri terdiri dari beberapa komponen dasar:
Tujuan pembelajaran, tujuan pembelajaran yang harus dicapai oleh setiap siswa harus jelas.
Test, tes yang bervariasi perlu juga digunakan. Tes penempatan digunakan untuk menentukan kesiapan setiap berkas pembelajaran sehingga setiap siswa dapat ditempatkan pada posisi yang sesuai.
Kiat belajar, berdasarkan data diagnostik, setiap siswa diberikan materi belajar yang tepat, biasanya diprogram dalam buku kerja.
Sistem pencatatan. Pencatatan hasil belajar siswa dijaga dari setiap siswa.
Pendekatan Tanpa Penilaian untuk Melayani Perbedaan Individu
Untuk melayani perbedaan individu terkait dengan kompetensi diri di dalam kelas, anda harus mengembangkan dan menggunakan apakah pendekatan sudah sesuai dengan cara kerja siswa. Tebtu saja, pembelajaran yang luar biasa bagi siswa jika secara rutin menerapkan praktek pengajaran yang maksimal, meliputi;
Rancang tujuan pembelajaran dan sesuaikan dengan kebutuhan siswa
Lebih fleksibel dan lakukan pembelajaran yang bervariasi dengan materi yang berbeda.
Menerima dan perhatian terhadap setiap siswa
Kembangkan kebebasan dan disiplin diri
Berpikir positif tentang matematika, buat belajar menyenangkan dan menggairahkan.
Ciri-ciri Pebelajar Lambat
Anak-anak menjadi lambat dalam belajar matematika dasar memiliki beberapa alasan.Untuk mengetahui penyebab anak lambat dalam belajar, perlu diketahui terlebih dahulu ciri-ciri dari setiap pebelajar lambat. Para pebelajar lambat sering menunjukka ciri-ciri sebagai berikut:
Intelegensinya termasuk rata-rata bawah..
Memiliki kebiasaan buruk ke sekolah.
Defisiensi fisik
Masalah psikologi dan emosi
Berasal dari keluarga miskin
Cacat fisik
Menyediakan Pembelajaran yang Tepat untuk Pebelajar Lambat
Pembelajaran yang efektif untuk pebelajar lambat membutuhkan dua usaha besar, yaitu:
Berikan perlakuan secara langsung terkait dengan penyebab mengapa prestai mereka kurang
Perhatian harus terfokus pada hasil diagnosa dari kesulitan mereka dalam belajar matetika
Kebiasaan yang Disarankan untuk Pebelajar Lambat
Berikut ini beberapa cara yang sering digunakan untuk penentuan pembelajaran bagi siswa dengan kemampuan belajar lambat:
Pilih materi yang berkaitan dengan keterampilan kelangsungan hidup, seperti berkaitan dengan uang, waktu, dan pengukuran.
Sajiikan materi per tahap dan yakinkan bahwa mereka bisa berhasil
Berikan kesempata kepada siswa untuk bekerja di laboratorium pada materi tingkat penguasaan.
Berikan tes diagnostik untuk mengetahui kelemahan-kelemahan yang menyebabkan mereka terhambat dalam belajar.
Tekankan pengertian dan pemahaman konsep serta langkah-langkahnya sebelum memberikan tugas untuk menghindari kesalahan dalam proses dan prosedur gagal.
Presentasikan topik baru dalam waktu yang lebih lama
Sediakan siswa dengan kemampuan lambat lebih banyak waktu
Berikan latihan singkat berkali-kali
Tunda pemberian topik baru sampai mereka benar-benar menguasa topik yang akan digunakan selanjutnya
Jika memungkinkan, berikan kepada siswa dengan kemampuan lambat hanya kegiatan yang terdapat dalam buku teks tertentu dan permasalahan yang tidak membuat mereka frustasi.
Berikan tuntunan
Berusaha untuk mengubah sikapnya terhadap sekolah dan matematika
Ajak orang tua untuk merancang peningkatan belajarnya
Hindari mengasingkan mereka dari siswa lainnya.
Ciri-ciri Pebelajar Cepat
Kebanyakan pebelajar cepat memiliki karakteristik:
Memiliki intelegensi rata-rata atas
Memiliki prestasi yang tinggi dalam penalaran matematika
Memiliki kebiasaan baik di sekolah
Berasal dari keluarga dengan status sosial ekonomi yang bagus
Komitment terhadap tugas
Kreatif
Senang bergaul
Menyediakan Pembelajaran yang Tepat untuk Pebelajar Cepat
Perancangan program yang baik bagi siswa rata-rata tidak cukup bagi pebelajar cepat karena alasan berikut:
Pebelajar cepat dapat menerima lebih cepat daripada pebelajara rata-rata
Pebelajara cepat dapat menerima konsep yang lebih tinggi daripada pebelajar rata-rata
Pebelajar cepat dapat menggeneralisasi dan menemukan solusi yang berbeda untuk permasalahan yang oleh siswa dengan kemampuan rata-rata tidak dapat diselesaikan.
Kebiasaan yang Disarankan untuk Pebelajar Cepat
Bentuk Pengaturan untuk Pebelajar Cepat
Gunakan Guru Khusus
Kreasikan Kelas Khusus
Sesuaikan kurikulum untuk Pebelajar Cepat
i Shumway, R. 1980. Research in Mathematics Eduction. NCTM.
ii Preckel, et. al. Gender Differences in Gifted and Average-Ability Students: Comparing Girls' and Boys' Achievement, Self-Concept, Interest, and Motivation in Mathematics. Diambil dari: http://proquest.umi.com/pqdweb?did=1531234011&sid=11&Fmt=3&clientId=68516&RQT=309&VName=PQD.




